tentang seorang gadis dan mikail

24 Dec 2010

Pada suatu ketika, hiduplah seorang gadis malang yang memiliki seorang ibu tiri. Ibu tirinya adalah seorang Penyembuh. Sang Gadis harus membantu ibu tirinya setiap hari walaupun si Ibu Tiri tidak pernah memperlakukannya dengan baik.

Suatu hari, si Ibu Tiri memerintahkan sang Gadis untuk memetik dedaunan obat di Taman Surga. Sang Gadis tahu pasti bahwa Taman Surga itu terlarang bagi manusia, namun si Ibu Tiri mengancam akan mencelupkan kedua kakinya ke air mendidih jika ia tidak menurut. Maka dengan berat hati, pergilah sang Gadis ke Taman Surga.

Taman Surga memiliki semua jenis tanaman, baik yang ada maupun yang tidak ada di Bumi. Obat-obatan dari si Ibu Tiri terkenal seantero negeri sebagai obat-obatan yang ampuh. Inilah rahasianya: dedaunan dari Taman Surga.

Saat sang Gadis sedang memetik dedaunan tersebut dengan hati-hati agar tidak ada yang memergokinya, ia mendengar sebuah suara, suara yang sangat merdu. Suara yang tak pernah ia dengar di Bumi. Suara itu bernyanyi dengan lembut. Pelan dan lembut.

Seiring dengan alunan lagu, tiba-tiba bunga-bunga bermekaran, pohon-pohon berbuah, angin bertiup sepoi-sepoi. Taman Surga terasa semakin tenteram. Sang Gadis memejamkan matanya. Mendadak ia merasa bahagia lagi, suatu hal yang hampir tak pernah ia rasakan sejak mulai dijadikan budak oleh si Ibu Tiri.

Sang Gadis mencari-cari sumber suara itu. Tapi Taman Surga nampak kosong, tidak ada siapapun di situ. Maka Sang Gadis terus mencari, hingga akhirnya ia sampai di hadapan sebuah pintu besar. Diraihnya pegangan pintu itu dan dicobanya untuk membuka. Nihil. Pintu itu tetap bergeming.

Saat itu tempo lagu yang dinyanyikan oleh suara itu menjadi lebih cepat dan semakin cepat. Perlahan-lahan, awan hitam berkumpul. Tak lama kemudian, turunlah hujan gerimis dengan angin yang agak kencang.

Sang Gadis semakin penasaran. Dipandanginya pintu itu, seolah dengan begitu ia akan bisa memandang apa yang ada di baliknya. Tiba-tiba, sang Gadis melihat sesuatu di ujung matanya. Sebuah lubang. Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk mengintip. Maka ia menunduk dan mengintip melalui lubang itu.

***

Lanjutannya MUNGKIN bakal ada di buku kumpulan cerpen Be Strong, Indonesia! #tujuhbelas, MUNGKIN juga gak ada. Nama saya gak nongol di daftar cerpen yang bakal diterbitin, tapi tadi admin-nya bilang kalo karya pertama saya yang ditulis untuk konsumsi publik ini bakal terbit di buku nomor 17.

Harga bukunya rada mahal, mamen. 45rb/eksemplar. Tapi semua royalti bakal disumbangin ke korban bencana alam. Jadi, please beli ya? At least help me spread the news.

Ke-tujuh belas buku Be Strong, Indonesia! ini gak bakal ada di toko buku manapun di muka bumi. Yang mau beli, silahkan kunjungi nulisbuku.com ya? Cari aja di sana. Oke, oke?

Sincerely,
Putdar.

Post a Comment

Comments are welcome :)