Tentang Sabar dan Egois

4 Oct 2009

"Kenapa wajahmu?"

"Apa?"

"Wajahmu kusut."

"Biasanya?"

"Ada apa?"

"Macam-macam."

"Salah satunya?"

"Ini malam minggu."

"Jadi?"

"Jadi jalanan penuh dengan orang-orang yang berangkat pacaran dan bersenang-senang. Tidak memberi jalan untukku yang ingin segera pulang, lelah karena kegiatan seharian ini."

"Hanya karena itu saja?"

"Kan tadi aku bilang 'macam-macam'."

"Oh. Sabar sajalah."

"Aku sudah sabar sejak lahir. Kapan aku boleh egois?"

"Nanti, kalau kau sudah punya anak."

"Biar anakku harus sabar sejak lahir dan baru boleh egois ketika dia punya anak?"

"Bukankah memang begitu seharusnya?"

"Hidup ini tak adil. Ibuku bisa membentak-bentak, marah-marah tanpa mendengar pembelaanku sedikitpun, sedangkan aku tak boleh marah-marah. Ancamannya neraka."

"Bukankah hidup memang tak adil? Hidup tak adil, kecuali jika dibandingkan dengan kematian."

"..."

"Sabar sajalah. Dalam setiap penderitaan, ada pelipur yang tersembunyi."

"..."

"Suatu saat nanti, kita semua akan terbangun dan mendapati bahwa kita baik-baik saja."

"Memang kapan sih 'suatu saat' itu?"

"Tidak lama lagi."

Join the discussion?

  1. suatu saat nanti dardar juga bakalan jadi ibu...

    pasti mau dunkz anaknya nurut n ngelawan...

    ya dari sekarang dar juga jangan ngelawan ke ortu...

    ReplyDelete

Comments are welcome :)